Biografi yang Terbuka Sepanjang Leiden-Amsterdam
Oleh Soni Farid Maulana
Semangkuk sup petani, sepotong roti kering
Juga segelas anggur merah terhidang di atas meja.
Inikah menu musim dingin yang sering kau ceritakan itu?
Tuan, semuanya 10 gulden 25 sen, ujar seorang wanita
Berambut pirang
Sementara di luar jendela; salju turun lagi.
Jalan-jalan memutih, udara yang kuhirup terasa
Lebih dingin dari sorot matamu:
Lebih lembab dari ruang tahanan tanpa matahari.
Dari balik jendela aku pandang lagi segerombolan
Camar laut, juga bebek liar yang terbang ke utara.
Kadang melintas di atas kincir angin;
Sebagian menukik, mendarat, dan meluncur
Pada permukaan sungai setengah membeku.
Tapi sorot matamu masih tampak suram di situ;
Bagai kabut yang turun seluas pandang.
Adakah cinta, lebih berharga
Dari semangkuk sup petani? ujarmu.
Hari makin sore, seperti goresan usia
Membenihkan karat di tubuhku. Sayup
Gema lonceng mengalun dari gereja tua
Tempat persembunyian Anne Frank.
Zaman Nazi telah berlalu, memang. Tapi hidupku,
Di penghujung Abad 20; tidak mau beranjak
Dari amis darah semacam itu, tuturmu.
Lalu selembar foto, mungkin seorang kekasih
yang pernah mengisi hatimu
Kau keluarkan dari dompet jiwamu yang kumal
Oleh pahit kehidupan. Kau ingin membuangnya
Jauh-jauh. Kau ingin membenamnya
Pada timbunan salju; yang perlahan membukit
Dalam cekung kalbumu
Yang memar; oleh dusta, oleh reruntuhan
Kata-kata tanpa makna yang disuarakan
Kekasihmu; tiga puluh dua tahun lalu.
Selebihnya desir angin terasa lebih dingin
Dari permukaan kaca jendela.
Sekali lagi, katamu, semangkuk sup petani,
Sepotong roti kering
Dan segelas anggur merah; adakah
Lebih bermakna dari cinta? Airmata
Berkilat di punggung waktu
1999
OASE
Republika Online, edisi : 25 Jul 1999


0 Comments:
Post a Comment
<< Home