'Aku Pengarang' di Panggung Sastra Artifisial
oleh Riki Dhamparan Putra
DALAM pengantar kumpulan puisi Frans Nadjira, Springs of Fire Spring of Tears (Matamerabook 1998), Thomas Hunter Jr, pengamat sastra Indonesia asal Amerika, pernah mengatakan, tema-tema dalam hampir keseluruhan karya-karya Frans Nadjira tergolong ke dalam tema-tema mayor, berwatak universal, dan melibatkan diri dalam problem-problem humanisme.
Hal itu tampak dalam sejumlah cerpen yang terkumpul dalam kumpulan Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun Daun (Matamera Book, 2004). Frans Nadjira sama sekali tidak terlihat berambisi untuk mengikuti mainstream sastra dunia terbaru. Dia bergeming dengan wacana-wacana terkini yang mulai menggugat keterlibatan 'aku pengarang', dan lebih cenderung memilih karya-karya yang naratif, di mana pengarang hanyalah narator yang tidak mengalami keterlibatan apa pun dengan teks-teks yang ditulisnya sendiri.
Bila melihat cara-cara Frans Nadjira mempertanyakan dan melibatkan diri dalam peristiwa demi peristiwa di dalam tiap cerita yang disuguhkan, pembaca akan segera teringat karakter sebuah generasi sastra yang amat penting dalam kesusasteraan modern kita, yakni generasi tahun 70-an, di mana eksistensialisme dan humanisme secara luas mendominasi permenungan sastra kita di masa itu. Dengan demikian, hadirnya cerpen-cerpen dengan 'aku yang terlibat penuh' dalam karya-karyanya, di satu sisi, seolah hendak menegaskan konsistensi pengarang, sebagai bagian dari sebuah generasi yang begitu gelisah dengan soal-soal keberadaan, ataupun hakikat kemanusiaan dalam diri seseorang. Konsistensi mengandaikan upaya pengarang dalam memelihara suatu 'pandangan dunia' di sepanjang perjalanan kreatifnya. Dalam hal ini konsistensi Frans Nadjira sebagai pengarang terlihat sebagai suatu 'pandangan dunia' tentang hakikat keberadaan kemanusiaan secara luas, di mana dia menyelam untuk mengalami serta mengungkapkan esensi dari kehidupan manusia itu sebagaimana tampak dalam kutipan di bawah ini:
"Bagiku hidup harus diberi makna, agar jika tiba saatnya maut menjemput, ia tidak merasa sia-sia karena telah menjemput seorang manusia yang hidupnya tak bermanfaat" (halaman 76). Masih dalam cerpen yang sama, secara lebih tegas dikatakannya, "Karena itu, segala sesuatu yang dapat musnah tidak pantas menjadi tujuan utama manusia..." (halaman 78).
Kata-kata tersebut merupakan ungkapan tokoh Farsa yang disampaikan 'Aku' dalam cerpen Seandainya Aku Memahami Debu. Bagi saya, kalimat tersebut merupakan sebuah pernyataan pencapaian pengarang sendiri tentang hakikat kehadirannya di dunia ini. Di antara dialog-dialog dalam cerpen-cerpen lain, petikan kalimat tersebutlah yang paling kentara sebagai pencapaian permenungan Frans Nadjira terhadap tujuan kehidupan.
Lebih jauh, eksistensi kehidupan seorang berakhir dalam suatu melodrama yang indah. Yakni saat daging kembali ke kodratnya sebagai abu yang mulia. Tatkala "tanah, air, logam, kayu, dan api gemertak dalam satu proses; kembali ke unsur..." (halaman 79).
Pandangan seperti itu mewarisi makna sebuah kodrat manusia dalam tradisi mistik kuno: "dari debu kembali ke debu". Tokoh Farsa dalam hal ini tidak bermaksud memberi suatu makna baru dari kodrat manusia. Ia menjalani hidupnya untuk meneguhkan keyakinan pandangan tersebut dalam dirinya. Usaha untuk mengalami esensi itu--sebagaimana dikatakan Arif B Prasetyo--dicapai dengan mengalami dunia hikmah. Jika hendak diteruskan, di sini eksistensi berubah arti menjadi kodrat, sesuatu yang telah ditetapkan, suatu keniscayaan.
Tema-tema seperti itu memang lazim muncul dalam pemikiran kesusastraan dunia sejak dari zaman klasik. Bahkan terkesan ketinggalan. Namun, dengan gaya pengungkapan yang cenderung surealis dan puitik, Frans Nadjira telah berhasil setidaknya untuk dua hal; pertama, menyegarkan kembali tema-tema tersebut untuk diulang hari ini. Kedua, merupakan usaha untuk menjembatani kebuntuan yang biasa terjadi antara keinginan untuk membentangkan realitas dan bukan realitas dalam sebuah bangunan cerpen.
Sastra artifisial
Mengapa perkara eksistensi begitu penting bagi pengarang generasi sezaman Frans Nadjira biasanya digeneralisasikan dengan dua hal penting. Pertama, pengaruh pemikiran filsafat modern Eropa dalam kesusastraan kita. Kedua, situasi politik yang telah mendorong perdebatan generasi tahun tujuh puluhan ke perdebatan-perdebatan tentang apa yang semestinya menjadi panglima dalam kehidupan manusia.
Pasca-"surat kepercayaan gelanggang" dan "polemik kebudayaan" di permulaan Indonesia modern, kalangan modernis Indonesia terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu humanisme liberal yang memusatkan pandangan penciptaannya pada kebebasan kreatif individu tanpa tekanan ideologi sosial. Para penganutnya menyatakan sikap kreatifnya dengan apa yang dikenal sebagai "manifesto kebudayaan".
Di kubu lain ada Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang menjadikan kehendak orang banyak sebagai satu-satunya cara untuk mencapai kepenuhan kemanusiaan. Di sini konon, eksistensi individu tidak mendapat tempat. Politik menjadi panglima tertinggi setiap denyut perubahan yang terjadi.
Sejarah kemudian memberi peluang pada kubu "manifesto kebudayaan" ini, untuk terus mengembangkan paham-paham kemanusiaannya dalam kesusastraan. Pengaruhnya masih terasa hingga hari ini dengan dominannya tokoh-tokoh tahun tujuh puluhan itu dalam panggung sastra Indonesia.
Lebih dari itu, masing-masing tokoh sastrawan tahun tujuh puluhan tersebut tampaknya berhasil mengembangkan suatu "politik kubu" yag lain lagi. Begitulah konon, jika ingin selamat dalam kompetisi di panggung sastra, seorang penulis muda mesti memilih ikut dalam salah satu kubu itu. Apakah kubu Goenawan Mohammad atau Taufik Ismail, atau salah satu dari yang lainnya yang telah melahirkan "mazhab". Lebih jauh, mereka tidak hanya mewariskan pemikiran kesusastraan, tetapi juga penyakit dalam bentuk politik kubu itu.
Karya-karya artifisial mereklamasi kedalaman, lebih merayakan vitalitas produksi ketimbang perenungan. Seperti kecenderungan orang-orang memilih viagra untuk terkesan macho. Frans Nadjira adalah salah satu dari sastrawan tahun tujuh puluhan yang tenggelam dalam gelombang reklamasi karya artifisial itu. Meskipun satu dua karya-karyanya diterbitkan dalam sejumlah antologi bersama tentang sastra Indonesia, tidaklah cukup untuk mempengaruhi arus tersebut. Tentu saja, maksud kita bukan semata soal bagaimana menjadi tokoh di panggung sastra itu. Tetapi bagaimana sesungguhnya kita telah membangun tradisi kesusasteraan kita selama ini. Apakah sudah berdiri di atas fondasi objektivitas dalam memberi nilai pada semua jenis pencapaian sastrawan kita?
*Penyair. Kini menetap di Bali.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home