Sunday, March 06, 2005

Sebab Hujan Dinihari

gerimis ini pertanda apa
murungkah kau bungakecilku ?

bibir putihku jadi beku, biru
dicegah tatap sayumu

dini hari syahdu, sayangku
namun tak layak bagi kita bercumbu, berkayuh
berlama-lama dialun tenang ayunan sampan

Image hosted by Photobucket.com

biar saja lengan-jariku mengeras
meski dada halusmu pucat
menanti belas

-fajar sedang bergegas-

inilah awalnya, manis sayangku
mula mimpi menyapu kabut. dan dingin halimun lembut
terserap helai selimut kusut

Friday, March 04, 2005

Pertanyaan Cecak

oleh Abang Eddy A

taufan bergerak dalam remang kamar mati. bergumulan harum bijih kopi, wewangian ronce melati

bola lampu redup. lenguh nafas sayup. selesai hirupan anggur, mata kita bertemu, bibir kita bertegur

tiada sekunar di lekuk kamar. cuma temaram bohlam atau cecak curi dengar saja, menghitung degup di dada kita

Image hosted by Photobucket.com

mungkin ia menduga. mungkin bertanya-tanya : apa
dendam jantan atas betinanya

Surat Cinta

oleh WS Rendra

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain...
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !

'Aku Pengarang' di Panggung Sastra Artifisial

oleh Riki Dhamparan Putra


DALAM pengantar kumpulan puisi Frans Nadjira, Springs of Fire Spring of Tears (Matamerabook 1998), Thomas Hunter Jr, pengamat sastra Indonesia asal Amerika, pernah mengatakan, tema-tema dalam hampir keseluruhan karya-karya Frans Nadjira tergolong ke dalam tema-tema mayor, berwatak universal, dan melibatkan diri dalam problem-problem humanisme.

Hal itu tampak dalam sejumlah cerpen yang terkumpul dalam kumpulan Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun Daun (Matamera Book, 2004). Frans Nadjira sama sekali tidak terlihat berambisi untuk mengikuti mainstream sastra dunia terbaru. Dia bergeming dengan wacana-wacana terkini yang mulai menggugat keterlibatan 'aku pengarang', dan lebih cenderung memilih karya-karya yang naratif, di mana pengarang hanyalah narator yang tidak mengalami keterlibatan apa pun dengan teks-teks yang ditulisnya sendiri.

Bila melihat cara-cara Frans Nadjira mempertanyakan dan melibatkan diri dalam peristiwa demi peristiwa di dalam tiap cerita yang disuguhkan, pembaca akan segera teringat karakter sebuah generasi sastra yang amat penting dalam kesusasteraan modern kita, yakni generasi tahun 70-an, di mana eksistensialisme dan humanisme secara luas mendominasi permenungan sastra kita di masa itu. Dengan demikian, hadirnya cerpen-cerpen dengan 'aku yang terlibat penuh' dalam karya-karyanya, di satu sisi, seolah hendak menegaskan konsistensi pengarang, sebagai bagian dari sebuah generasi yang begitu gelisah dengan soal-soal keberadaan, ataupun hakikat kemanusiaan dalam diri seseorang. Konsistensi mengandaikan upaya pengarang dalam memelihara suatu 'pandangan dunia' di sepanjang perjalanan kreatifnya. Dalam hal ini konsistensi Frans Nadjira sebagai pengarang terlihat sebagai suatu 'pandangan dunia' tentang hakikat keberadaan kemanusiaan secara luas, di mana dia menyelam untuk mengalami serta mengungkapkan esensi dari kehidupan manusia itu sebagaimana tampak dalam kutipan di bawah ini:

"Bagiku hidup harus diberi makna, agar jika tiba saatnya maut menjemput, ia tidak merasa sia-sia karena telah menjemput seorang manusia yang hidupnya tak bermanfaat" (halaman 76). Masih dalam cerpen yang sama, secara lebih tegas dikatakannya, "Karena itu, segala sesuatu yang dapat musnah tidak pantas menjadi tujuan utama manusia..." (halaman 78).

Kata-kata tersebut merupakan ungkapan tokoh Farsa yang disampaikan 'Aku' dalam cerpen Seandainya Aku Memahami Debu. Bagi saya, kalimat tersebut merupakan sebuah pernyataan pencapaian pengarang sendiri tentang hakikat kehadirannya di dunia ini. Di antara dialog-dialog dalam cerpen-cerpen lain, petikan kalimat tersebutlah yang paling kentara sebagai pencapaian permenungan Frans Nadjira terhadap tujuan kehidupan.

Lebih jauh, eksistensi kehidupan seorang berakhir dalam suatu melodrama yang indah. Yakni saat daging kembali ke kodratnya sebagai abu yang mulia. Tatkala "tanah, air, logam, kayu, dan api gemertak dalam satu proses; kembali ke unsur..." (halaman 79).

Pandangan seperti itu mewarisi makna sebuah kodrat manusia dalam tradisi mistik kuno: "dari debu kembali ke debu". Tokoh Farsa dalam hal ini tidak bermaksud memberi suatu makna baru dari kodrat manusia. Ia menjalani hidupnya untuk meneguhkan keyakinan pandangan tersebut dalam dirinya. Usaha untuk mengalami esensi itu--sebagaimana dikatakan Arif B Prasetyo--dicapai dengan mengalami dunia hikmah. Jika hendak diteruskan, di sini eksistensi berubah arti menjadi kodrat, sesuatu yang telah ditetapkan, suatu keniscayaan.

Tema-tema seperti itu memang lazim muncul dalam pemikiran kesusastraan dunia sejak dari zaman klasik. Bahkan terkesan ketinggalan. Namun, dengan gaya pengungkapan yang cenderung surealis dan puitik, Frans Nadjira telah berhasil setidaknya untuk dua hal; pertama, menyegarkan kembali tema-tema tersebut untuk diulang hari ini. Kedua, merupakan usaha untuk menjembatani kebuntuan yang biasa terjadi antara keinginan untuk membentangkan realitas dan bukan realitas dalam sebuah bangunan cerpen.

Sastra artifisial

Mengapa perkara eksistensi begitu penting bagi pengarang generasi sezaman Frans Nadjira biasanya digeneralisasikan dengan dua hal penting. Pertama, pengaruh pemikiran filsafat modern Eropa dalam kesusastraan kita. Kedua, situasi politik yang telah mendorong perdebatan generasi tahun tujuh puluhan ke perdebatan-perdebatan tentang apa yang semestinya menjadi panglima dalam kehidupan manusia.

Pasca-"surat kepercayaan gelanggang" dan "polemik kebudayaan" di permulaan Indonesia modern, kalangan modernis Indonesia terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu humanisme liberal yang memusatkan pandangan penciptaannya pada kebebasan kreatif individu tanpa tekanan ideologi sosial. Para penganutnya menyatakan sikap kreatifnya dengan apa yang dikenal sebagai "manifesto kebudayaan".

Di kubu lain ada Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang menjadikan kehendak orang banyak sebagai satu-satunya cara untuk mencapai kepenuhan kemanusiaan. Di sini konon, eksistensi individu tidak mendapat tempat. Politik menjadi panglima tertinggi setiap denyut perubahan yang terjadi.

Sejarah kemudian memberi peluang pada kubu "manifesto kebudayaan" ini, untuk terus mengembangkan paham-paham kemanusiaannya dalam kesusastraan. Pengaruhnya masih terasa hingga hari ini dengan dominannya tokoh-tokoh tahun tujuh puluhan itu dalam panggung sastra Indonesia.

Lebih dari itu, masing-masing tokoh sastrawan tahun tujuh puluhan tersebut tampaknya berhasil mengembangkan suatu "politik kubu" yag lain lagi. Begitulah konon, jika ingin selamat dalam kompetisi di panggung sastra, seorang penulis muda mesti memilih ikut dalam salah satu kubu itu. Apakah kubu Goenawan Mohammad atau Taufik Ismail, atau salah satu dari yang lainnya yang telah melahirkan "mazhab". Lebih jauh, mereka tidak hanya mewariskan pemikiran kesusastraan, tetapi juga penyakit dalam bentuk politik kubu itu.

Karya-karya artifisial mereklamasi kedalaman, lebih merayakan vitalitas produksi ketimbang perenungan. Seperti kecenderungan orang-orang memilih viagra untuk terkesan macho. Frans Nadjira adalah salah satu dari sastrawan tahun tujuh puluhan yang tenggelam dalam gelombang reklamasi karya artifisial itu. Meskipun satu dua karya-karyanya diterbitkan dalam sejumlah antologi bersama tentang sastra Indonesia, tidaklah cukup untuk mempengaruhi arus tersebut. Tentu saja, maksud kita bukan semata soal bagaimana menjadi tokoh di panggung sastra itu. Tetapi bagaimana sesungguhnya kita telah membangun tradisi kesusasteraan kita selama ini. Apakah sudah berdiri di atas fondasi objektivitas dalam memberi nilai pada semua jenis pencapaian sastrawan kita?

*Penyair. Kini menetap di Bali.

ANXIETAS PENYAIR

oleh Nanang Suryadi

sepertinya,
kau rasakan juga dingin ini sebagai simbol kenangan kita,
sebagaimana telah dirayakan kekalahan-demi kekalahan yang menikami tubuh.
dan berderailah tawa atau tangis,
karena airmata tetap membasah pada pelupuk mata.
usahlah lagi ditanyakan untuk apa kita di sini,
menikmati hari-hari membisu atau hiruk pikuk yang menggedor-gedor kepala dan dada.
anxietas yang menggigilkanmu telah menciptakan cerita-cerita dalam pertemanan ganjil.
sebagai seorang pertapa namun hendak menyetubuhi bintang dan rembulan.
memanggil bapak dan ibu dengan keparauan kanak.
kesunyian yang tak dimengerti artinya.
juga sebuah cita-cita?

Malang, 1997

Thursday, March 03, 2005

BANYAK SIMPANG, KOTA TUA : MELANKOLIA

oleh Dorothea Rosa Herliany


1.

selalu, setiap perjalanan keluhkesah itu
kau tak ingin sampai, di atas andong kau
bertanya siapa di antara kita kusirnya
kau tak ingin sampai, di setiap tikungan
membaca arah angin dan namanama gang.


orangorang, selalu seperti memulai hari
berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa
memburu dan siapa diburu.
kita pun melangkah di antara perjalanan keluhkesah.
dan selalu gagal membaca arah.



2.

ada yang selalu mengantarmu ke segenap arah,
desa demi desa, tapi akhirnya
kau hanya sendiri di atas catatan duka
di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian
:sebab katamu, kenangan itu racun.
hari ini aku melihat wajahmu
seperti patungpatung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenangsenang atas kesedihan hari ini.
maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah
rumah dan hirukpikuk kotamu yang angkuh.




3.

kutunggu engkau di stasiun, beberapa jam usiaku hilang,
kutunggu sepanjang rel dan bangkubangku yang bisu.
kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,
sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat
dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?
kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.


4.

kukira Joan Sutherland dan Mozart dalam Die Zauberflote.
tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,
dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik
dan aspal membara,
tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.
hanya mulutnya yang bergerakgerak di luar kaca
dan suara mencekam Sutherland.
Yogya semakin tua, dan dimanamana kudengar
ceritacerita kesedihan.
tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli
seekor burung yang tak henti berkicau,
dan menjadi begitu pendiam saat kaubawa pulang.



5.

sebuah surat kutemukan di Malioboro,
tampaknya seorang gadis telah patah hati,
dan mencari kekasihnya di etalaseetalase
dan di antara tumpukan barangbarang kaki lima,
tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada
bayangbayang kekasih itu.
kutemukan surat itu, dan kukirimkan kembali
entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,
dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,
tapi kau tak pernah membacanya,
dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat
dan tak kukirim ke manapun.


6.

rindu kadang menyakitkan
tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?
seseorang tak ingin pergi
dan membangun sebuah rumahsiput.
seseorang tak ingin pergi
dan mencatat berderet peristiwa
untuk menjadikannya hanya kenangan.


Yogya, 1999

SURAT PENDEK DARI GUDANG PELURU DAYEUH KOLOT

oleh Sutan Iwan Sukri Moenaf

Masih kurasakan dengus malam dalam cahaya matamu, Neng
Berdendang dengan angin dan selendang mayang
tentang negeri yang terbakar dendam
"Harus diselamatkan, Neng, Harus diselamatkan!"
Suara sendiri menggaung dalam subuh
tentu engkau rasakan langit hitam negeri ini akan luruh.

sebentar nanti
langit perak gemerlapan akan tumbuh, Neng,
akan tumbuh

Perlahan sekali, subuh kutembus
antara percakapan rumput-rumput dan angin
antara bayang-bayang dan selendang mayang di leherku
dan wajah bunda pertiwi dalam dada
Langkahku semakin tertuju ke Gudang Peluru
Tentu engkau mengerti,
langkah demi langkah berbagi antara kau dan bunda pertiwi
Perlahan sekali, kawat berduri kutembus
antara kantuk serdadu-serdadu penjaga
dan nafsu ingin segera kembali padamu
Dadaku semakin busung
ketika menangkap senyummu mampir menggoda
dan bunda pertiwi bertanya-tanya dalam ruang dada
tentang arti gelora dalam perjalanan sejarah mendatang
Perlahan sekali, merayap sunyi
sambil kugenggam granat dan menikmati
harum rambutmu masih terasa dalam selendang mayang
berjalan menyusur pagi yang hampir tiba
"Adakah engkau di sana mendengarkan kisahku, Neng?

Detik demi detik:
Waktu berjalan
Dalam sudut kepastian
dengan granat di tangan
panas kugenggam dan picu telah dilepas.

Ketika ini semilir bayangmu makin menggoda
Ingin saja kukembali dari Gudang Peluru
dan datang padamu untuk mengajuk waktu-waktu tersisa

"Tidak, Neng
Kita tebus kemerdekaan dengan menggadaikan cinta kita pada ladang-ladang mesiu musuh!" Dan kita tanam kemerdekaan dalam dada
atas setiap jengkal negeri ini
dan kita siram dengan darah dan keringat,
agar tumbuh, Neng,
agar selamat....

Lambaian tanganmu,
ketika melepasku pergi perlahan terasa
Mungkin juga seribu pemuda merasa
ketika berpisah: Mengosongkan Bandung!

Dan granat ini semakin mesra bercanda, Neng
sambil sayup-sayup membakar tanah selatan
"Selamat tinggal, Neng, semua ini untukmu!

Aku rela...."

Tanganku perlahan tapi penuh kepastian dan tenaga.
Granat itu kulepas
Granat itu melayang di udara
Berhasil kulempar!

Granat itu lepas!

Granat itu melayang dengan anggunnya.
Menembus subuh menerkam sasaran!

Mataku tak pernah lupa
Granat itu meledak!

Bunga api
di pinggir subuh
di sisi pagi
di tepi Bandung Selatan
Mataku tak pernah lupa
Granat itu meledak!

Gudang Peluru itu musnah!
Gudang Peluru itu musnah!

Bergelegar suaranya di Bandung Selatan
Aku puas, Neng,
aku puas sekali....

Tidakkah engkau lihat semua itu dalam senyumku?

Sekarang aku ingin segera kembali padamu, Neng
Ingin kutuliskan kisahku,
ingin kuceritakan pengalamanku dengan selendang mayangmu
dalam wangi rambutmu
dengan seluruh getar jiwaku menatap untukmu, Neng
Dan langkahku semakin ringan, Neng,
semakin ringan berjalan menujumu.
Dan, O, siapa yang terbaring itu?

Wajahnya hancur,
tubuhnya luluh tak dapat dikenal
Darah berhamburan di sana-sini
Tapi aku kenal selendang itu,
bukankah selendangmu, Neng ?

Bukankah selendangmu yang kupakai,
yang melingkar di leher tubuh itu?

Langkahku semakin ringan dan semakin kasat
Sekali terbang dan sekali terbenam
Dari balik mentari
Kusimpan salam untukmu, Neng!

Bandung 1983

KEKUATAN IMAJI DALAM IKAN TERBANG TAK BERKAWAN

oleh Abang Eddy Adriansyah*


Setelah 25 tahun menjalani proses kreatif sebagai seorang penyair, Warih Wisatsana, pemegang Borobudur Award, sebuah penghargaan tertinggi di bidang kepenyairan, akhirnya menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi. Kumpulan yang memuat 51 judul puisi tersebut adalah kumpulan pertama yang pernah diterbitkan selama karier kepenyairannya. Sudah barang tentu, menengok masa pengalaman kepenyairannya yang amat teruji secara konsistensi maupun produktivitas, puisi-puisi buah karya Warih Wisatsana dalam kumpulan berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan ini pastilah terdiri dari karya-karya yang selektif. Hal itu bisa ditilik dari tenggat penerbitan kumpulan ini dengan waktu kiprah kepenyairannya.

Sebuah karya yang terbit tak seketika, tentunya telah menempuh berbagai proses berobjektif kesempurnaan menurut pandangan pembuat karya tersebut. Demikian pula kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan ini. Minimal dari konsep kreatif Warih Wisatsana yang dikemukakan pada salah satu paragraf kata penutup kumpulan ini, ia menandaskan, “Dalam proses kreatif saya, tak ada puisi yang tercipta sekali jadi. Pengalaman pribadilah yang mengajarkan, bahwa setiap puisi yang pada awalnya dianggap telah selesai, bahkan telah dipublikasi, beberapa waktu kemudian ketika dibaca ulang selalu ‘membujuk’ minta diberi arti lagi.”

Sudah tentu, proses kerja keras tersebut menandakan bahwa penyair berusaha dengan sungguh-sungguh menunaikan tugas utama kepenyairannya, yaitu berbagi pengalaman dengan para pembaca atau apresiator puisi. Yang dengan itu berarti pula ia telah berupaya keras menyuguhkan imaji yang segar untuk puisi-puisinya, apalagi inspirasi penciptaan karya tersebut diperoleh dari berbagai pertemuan, perjalanan, maupun pengahayatan karya sastrawan lain.

Menurut pengamat sastra Drs. Atmazaki dalam buku Analisis Sajak: Teori, Metode, dan Aplikasi, jika penyair ingin berbagi pengalaman, tentulah ia akan menggunakan imaji yang hidup dalam puisinya. Dengan imaji yang hidup, apa yang didengar, dirasa, dihayati penyair yang termaktub dalam karyanya ikut pula didengar, dirasa, dan dihayati oleh para pembaca puisinya. Kadangkala melahirkan persepsi yang sama, atau bahkan menetaskan pengalaman baru. Karena, tanpa kesungguhan menghadirkan imaji yang hidup, eksistensi puisi seorang penyair hanya bisa berperan sebatas gejala pinggiran saja dalam ranah kesusastraan, sebab tidak pernah mengalami proses tukar pengalaman yang harmonis. Pada suatu kurun, bisa jadi karya-karyanya tinggal letupan pinggir, kendati mungkin juga meninggalkan bekas.

Jika imaji yang segar dikatakan sebagai pokok berbagi pengalaman, penggunaan majas, penggarapan retorika, pemilihan diksi, penataan bunyi, dan banyak teknik manipulasi bahasa untuk efek pengasingan adalah unsur penunjang dalam mempertegas pengimajian sebuah puisi. Pada kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan ini, unsur-unsur tersebut tegak mengimbuhi pengalaman sang penyair yang inspirasinya menurut beliau kebanyakan diperoleh dari pengalaman bersua dengan sosok-sosok pribadi yang unik, berkunjung ke tempat-tempat yang memikat, peristiwa besar, sampai influensi dari karya-karya sastrawan lain (Warih Wisatsana dalam esainya “Pertemuan, Inspirasi, Penciptaan”).

Keterpaduan unsur-unsur pengimajian itu terlintas kuat pada dua puisi awal kumpulan ini, yaitu “Api Bulan Mei” dan “Langit Pucat Bulan Oktober”. Keduanya berlatarkan tragedi kerusuhan Mei 1998 dan peristiwa Bom Bali 2002. Pilihan judulnya saja sudah bisa menstimulus pembaca untuk meneliti pengalamannya, merespons, menguak memori, lantas mengira-ngira apa yang terjadi pada waktu-waktu tersebut.

Keberhasilan pengimajian dari kedua sajak itu karena kecermatan pemilihan diksi hingga membentuk kiasan yang memperhalus imaji pembaca sekaligus memberikan efek puitik yang sensasional. Hal itu terlintas dalam cuplikan lirik “Api Bulan Mei” berikut ini.

Setelah padam inti api
Jadi nyata kini;
Itu desis kayu hangus
Atau bunyi tulang meletus

Kepada seorang ibu yang tersedu
Kubisikkan dengan sedih kata-kata hiburan;

Angkasa ini menyala karena pesta kembang api.

atau cuplikan lirik “Langit Pucat Bulan Oktober”:

Setiap orang bertanya. Ingin menyaksikan
Mawar pengantin terlepas dari tangan
Hangus terseret hawa panas
Terlindas kaki-kaki cemas yang bergegas

Di sini panas, Ibu, haus, haus sekali !

Dari cuplikan itu, pembaca mendapatkan imaji pendengaran, penglihatan, dan perabaan yang sensasional. Mengapa sensasional? Sebab, dalam larik-larik tersebut pilihan diksi berperan membentuk bahasa kiasan yang menghadirkan realitas dari dimensi yang lebih luas. Hal itu terlihat dari bagaimana penyair mengiaskan seolah-olah ia tengah menghibur seorang ibu yang tersedu dengan mengatakan bahwa api yang menyala dalam kerusuhan Mei itu hanya berasal dari pesta kembang api (“Api Bulan Mei”), atau bagaimana penyair menggambarkan orang-orang yang mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam peristiwa bom Bali dalam larik:

Setiap orang bertanya
Ingin menyaksikan
Mawar pengantin terlepas dari tangan
Hangus terseret hawa panas
Hangus terlindas kaki cemas yang bergegas
(“Langit Pucat Bulan Oktober”).

Kesemua lirik itu hadir sebagai realitas yang dipuitisasi dengan pemilihan diksi dan pembentukan bahasa kiasan yang teramat dalam, sehingga kedua peristiwa tragedi tersebut diproses secara inderawi oleh pembaca sebagai rangsangan untuk menyikapi peristiwa tersebut dengan perenungan dalam, bukan emosi spontan.

Selain kekuatan diksi yang membentuk bahasa kiasan, pertimbangan irama telah membuat kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan ini sarat pula dengan langgam atau nyanyian. Puisi imaji yang berirama bukan sekadar media berbagi pengalaman bak dua orang yang bertemu, minta api rokok, menanyakan alamat atau tempat, lantas berpisah. Puisi imaji yang berirama membuat proses pertukaran pengalaman bak dua orang yang bertemu di kafe atau taman teduh, saling menanyakan kabar, menikmati rokok sama-sama, lantas berjanji untuk saling bertemu lagi di suatu saat. Jelasnya, revitalisasi irama dan bunyi pada puisi-puisi penyair Warih Wisatsana ini membuat seluruh sajak dalam kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan sebagai kumpulan sajak yang enak dinikmati. Gejala itu dapat disimak dalam salah satu sajak yang termuat dalam kumpulan ini, “Avenue Charles de Gaulle”, yaitu:

Karena mata abai akan seringai
Aku sesat
Gigil
Dalam mantel dan syal kumal

Serupa serangga tua buta
Yang hilang ingatan
Sia-sia kuraba sisa cahaya di udara
Berputar-putar dari taman ke taman
Dari stasiun ke lain stasiun

Jangan, jangan tutup rapat loketmu !

Dalam cuplikan tersebut terlihat bagaimana bunyi-bunyi musikal yang merdu (efoni) atau bunyi-bunyi nonmusikal (kakafoni) berpadu membentuk irama atau metrum yang indah. Selain itu—lagi-lagi karena ketepatan pemilihan diksi—, ia menjadi puisi yang tidak sekadar berpantun, pulang ke cara lampau. Sebuah gejala yang biasanya terjadi pada puisi-puisi yang coba hirau pada irama.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puisi-puisi yang terkumpul dalam Ikan Terbang Tak Berkawan ini merupakan puisi-puisi imaji yang mudah diapresiasi karena kaya akan dedah pengalaman sekaligus hirau pada estetika metrum sehingga enak dinikmati. Terbitnya kumpulan puisi ini menurut komentar editorial penerbitnya, menandakan bahwa puisi-puisi berwarna nyanyian, yang tidak prosais, masih terus ditulis. Potensi kumpulan puisi ini tidak sekadar menstimulasi gejala pinggiran. Ia berpotensi menjadi pelengkap, pengimbuh kancah perpuisian atau kesusastraan Indonesia yang tengah beranjak ke muka.


*) Redaktur Pelaksana CyberMQ.

SOLITUDE

oleh Umbu Landu Paranggi

dalam tangan sunyi
jam dinding masih bermimpi
di luar siang menguap jadi malam
tiba-tiba musim mengeristal rindu dendam

dalam detik-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh bergema
menggigilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kekinian

seberkas cahaya dari menara waktu
menembus lapisan untung malang nasibku
di laut tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai
dalam gaung kumandang bait demi bait puisi


Antologi Puisi Penyair Yogya,1977

SABANA

oleh Umbu Landu Paranggi

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang

sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

sabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hujan aku ke gigir cakrawala


Antologi Puisi Penyair Yogya,1977

MELODI

oleh Umbu Landu Paranggi

cintalah yang membuat diriku betah untuk sesekali bertahan
karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam
mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

karena kesetianlah maka jinak mata dan hati mengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitar jarak dalam gempuran waktu

takkan jemu-jemu nafas bergelut resini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka, hikmah rahasia melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawahbantal, pananggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi gairah bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

Antologi Puisi Penyair Yogya,1977

AMSAL MERAH JINGGA

oleh Saut Situmorang

"berikanlah kepada kaisar
apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar
dan kepada Allah
apa yang wajib kamu berikan kepada Allah"

tapi bagaimana
kalau kaisar itu bukan kaisar
dan menganggap dirinya sama dengan Allah?

orang orang kurus
yang bayangannya juga kurus
menengadahkan tangan mereka
ke langit
dengan desah napas yang tertahan

doa doa melambung ke udara
bagai ribuan balon kosong menghambur ke cakrawala
mengetuk ngetuk pintu langit
menggetarkan awan awan yang kering hujan

"sampai kapankah kami
mesti terus memberi
kering tulang kami
susut perut kami
sementara bumi sudah lama tak akrab lagi?"

di laut
sebuah pedal sepeda
tersangkut di celah karang
bau keringat mengerubunginya
bagai lalat lalat di tumpukan sampah di kota

orang orang kurus
dengan bayangan kurus
masih mengangkat tangan mereka
wajah wajah suram tergores kering airmata

"berikanlah kepada kaisar…"

ya, burung tak bernama
yang mengerti bahasa cakrawala
terdengarkah detak jantung kami yang lemah
dari atas sana? adakah…?

padi tumbuh tapi layu jadi debu
keringat mengalir kering jadi debu
angin musim cuma membawa hujan debu
dalam tidur pun mimpi kami
tak bisa lari dari debu, debu, debu…
tapi di kota kota
yang cuma penuh serdadu serdadu tak berwajah
suara asing itu tak henti henti menyiksa
"berikanlah kepada kaisar…"

orang orang kurus
bernasib kurus, sekarang tak sabar lagi
dengan langit
bagai kerbau luka napas mereka mendengus ---
kota kota membara
terbakar hangus
di mata mereka yang merah marah

Wednesday, March 02, 2005

LANGIT SATU, MENJERIT WAKTU, MENJADI AKU

Oleh Radhar Panca Dahana

pergi aku menuju bulan pertama
cahaya menjerit dan memuntahkan hitam
datang kau menjanjikan senggama
hari dan detik ditarik-tarik, menghunjam
kepala nasib, lalu segala raib segala gaib
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
walillaahilhamd

kereta datang menggeram seribu dendam
rejam ... rejam ... rejam bangsa yang diam
bunga kuncup lagu layu gadis tak merayu
sini, ku dendangkan satu lagu, untukmu
untuk seluruh hidupmu.
dan kincir, gemelincir, air mengalir
darah yang anyir angin bersilir waktu bergulir
kamu, tak juga silir: hidupmu sihir.
air ... air....air...yang melautkan semua zaman
menautkan kezaliman, putus di pucuk awan
serahkan jantungmu, seperti dulu
waktu menjeratmu, seperti lalu
kau selalu malu mencumbu rindu
yang berbelit waktu dikandung batu.

pecahkan telur itu, tuangkan mimpi
biar sajak pun mengerti, andai kau berpaku diri
sepi tak beranjak pergi, kini tak lagi nanti
dan aku akan berhenti, mencetak cahaya
di lubang-lubang gelap matamu
di lebam malam ludah dendammu
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
walillaahilhamd


pernahkan lagi cuci badan di subuh hari
letihkan lagi caci zaman di tubuh pagi
nantikan lagi suci bulan di siang ini
darahkan lagi masa depan yang kini mati.
cukup nafsu kau eja ilmu
melulu bisu kau jaja jemu
lagi bulan tinggal seringgit ramadhan
kutegaskan getas selangit jeritan :
ini waktu laut darat menyatu,
cakrawala jingga menjadi tentu
sebuah bangsa menjadi satu...
menjadi aku.


Besancon, 1998